Pages

Sabtu, 10 Desember 2011

5 Tahun Lagi Panel Surya Lebih Murah Daripada Bahan Bakar Fosil

Meskipun efisien, panel surya untuk menghasilkan listrik masuk dalam katagori mahal untuk instalasi dan harga sel suryanya. Namun Direktur Global Research General Electric (GE), Mark Little, mengatakan bahwa lima tahun ke depan panel tenaga surya akan lebih murah daripada bahan bakar fosil.

Di Amerika Serikat dalam data Energy Information Administration, tarif listrik per 2009 berkisar antara 6,1 sen hingga 18,1 sen per kwh (Rp 521- Rp 1564). Sedangkan harga sel surya standar masih berkisar antara US$ 1 – US$ 3 per watt atau kira-kira seharga Rp 1600 – Rp 2000 per Kwh.

Perusahaan penghasil panel surya terbesar ini berencana mengembangkan panel surya yang jauh lebih tipis dengan tingkat efesiensi mencapai 12,8 persen. Dengan meningkatkan efesiensi maka jumlah cahaya mahatari yang dapat diubah menjadi tenaga listrik bisa lebih banyak dan akan menghemat biaya tanpa bergantung dengan subsidi listrik.

Rencananya panel surya generasi baru ini akan dipasarkan pada 2013. Setidaknya mereka akan memproduksi panel surya untuk 80 ribu rumah. GE berencana mengekspansi pabrik dan diperkirakan akan menghabiskan biaya US$ 280 miliar.

Harga standar panel surya saat ini sudah turun 21 persen sejak produk ini diperkenalkan. Biaya instalasi juga ikut turun meskipun masih mahal. Sebagian besar panel surya menggunakan sel berbasis silikon photovoltaic untuk mengubah cahaya matahari menjadi tenaga listrik.

Sedangkan panel surya generasi baru akan dibuat dari bahan kaca atau material lain yang dilapisi dengan cadmium telluride atau campuran copper indium gallium selenide. Panel ini diperkirakan akan langsung menguasai 15 persen total penjualan global atau US$ 28 miliar. Little mengakui sampai akhirnya panel surya diterapkan sebagai sumber energi alternatif sepenuhnya, membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Di Indonesia sendiri penggunaan panel surya juga mengalami hambatan yang sama. Apalagi produsen panel surya masih dari luar negeri jadi biayanya jauh lebih mahal. padahl jika dilihat dari potensi penghasil listrik tenaga surya di Indonesia cukup besar karena letak geografis yang berada pada daerah tropis.

Menurut laporan Kementerian ESDM, berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia untuk kawasan Barat Indonesia mencapai 4,5 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 10%, sementara itu untuk Kawasan Timur Indonesia sekitar 5,1 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%.
Potensi ini jika dimaksimalkan akan menambah energi listrik yang mampu dipasok oleh PLN, yaitu baru 1500-2000MW. Pemadaman listrik bergilir masih sering dilakukan dan proyek listrik 10.000MW masih belum tuntas sementara tuntutan atas pemenuhan listrik melonjak tiap tahun.

Setidaknya ada dua hal yang menghambat pemanfaatan energi surya menurut Ketua program Studi Meteorologi ITB, Armi Susandi. Pertama, efisensi sel surya yang belum maksimal dan harga dan pemasangan sel surya yang masih mahal.

Biaya pemasangan dan pemeliharaan panel surya memang lebih mahal bila dibandingkan dengan tarif dasar listrik Indonesia yang masih menjadi salah satu tarif terendah di ASEAN—setidaknya untuk konsumsi rumah tangga. Menurut CIDES, tarif dasar listrik di Indonesia mencapai Rp548 per Kwh, Thailand sebesar Rp829, Vietnam Rp848, Hong Kong Rp1.307, Filipina Rp1.449, dan Singapura Rp1.453.

Dengan begitu, masyarakat—yang mampu sekalipun—akan enggan menggunakan panel surya karena tidak ekonomis. Padahal untuk mengurangi konsumsi listrik dan ketergantungan akan bahan bakar fosil—yang selama ini menjadi bahan bakar utama di pembangkit listrik—pemerintah bisa menerapkan kebijakan penggunaan energi listrik. Misalnya masyarakat mampu perlu menyediakan pemenuhan sumber energi listrik sendiri dengan menyediakan panel surya di rumahnya. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009 Adoe Aduen | by TNB