Pemerintah Propinsi Aceh mendapatkan komitmen pinjaman lunak sebesar 7,7 juta Euro atau sekitar Rp 92,6miliar dari Pemerintah Jerman untuk membangun proyek listrik geothermal. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun proyek geothermal Seulawah.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengungkapkan, proyek geothermal Seulawah yang memiliki potensi panas bumi mencapai 200 mega watt (MW).
“Kita berharap proyek geothermal Seulawah dapat rampung tahun 2013, dan mudah-mudahan hasilnya dapat dinikmati masyarakat,” kata Irwandi Yusuf kepada wartawan, Jumat (15/4).
Pilot Project
Terkait dengan langkah Aceh yang akan mengembangkan proyek geothermal dalam rangka mendukung Pemerintah RI yang menetapkan pembangunan mengutamakan green energy, dan menargetkan harus memiliki sumber energi listrik geothermal sebesar 4.000 MW tahun 2014, maka Pemerintah meminta semua pihak meniru terobosan Pemerintah Aceh terkait pemanfaatan geothermal Seulawah.
“Terobosan itu sudah kita buat, pemerintah pusat tinggal mencontoh,” kata Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf menyikapi pernyataan Dirut PLN Dahlan Iskan, beberapa waktu lalu yang meminta semua pihak meniru terobosan yang dilakukan Pemerintah Aceh.
Menurut Irwandi, apa yang dilakukan Pemerintah Aceh telah menjadi inspirasi bagi pemerintah pusat. “Cara Aceh ini saya yakini menjadi yang terbaik, sehingga apa salahnya diadopsi, kemudian diterapkan di seluruh Indonesia,” ujar Irwandi mengutip Dahlan Iskan.
Gubernur mengungkapkan, pada 21 Januari 2011, di Gedung Kementerian Keuangan, Pemerintah Aceh, lembaga KfW Jerman dan Pemerintah RI meneken Financial And Separate Agreement, di mana Aceh mendapatkan hibah sebesar 7,72 juta Euro atau senilai sekitar Rp 92,6 miliar untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Seulawah, yang potensi listriknya mencapai 200 MW.
Dana ini hanya boleh digunakan untuk proses drilling eksplorasi geothermal Seulawah. “Jika pengeboran gagal menemukan panas bumi, maka Pemerintah Aceh tidak mendapat hasil apa-apa. Sebaliknya jika berhasil akan memiliki sejumlah saham di usaha geothermal tersebut,” katanya.
Berdasarkan kesepakatan itu, kata gubernur, Pemerintah Aceh melakukan lelang geothermal Seulawah, karena risikonya kecil maka investor sangat berminat atas lelang tersebut. Dan siapa pun yang memenangkan tender akan mendapat dana 7 juta Euro.
“Nah, untuk eksplorasi, kita mendapat ekuiti sebagai saham sebesar 7 juta Euro, dan jika eksplorasi berhasil maka pemenang tender akan melakukan pengeboran lanjutan untuk mendapat uap panas bumi sebagai pembangkit listrik,” kata Irwandi lagi.
Dikatakannya, proyek geothermal berisiko tinggi bagi investor. Para investor akan lebih suka mentransfer risiko tersebut ke PLN sebagai wujud permintaan tarif listrik yang tinggi.
Tetapi di sisi lain, PLN yang tidak dapat menjual listrik dengan harga tinggi tentu keberatan menerima transfer risiko itu. Akibatnya proyek geothermal di berbagai daerah banyak terbengkalai.
“Proyek semacam ini besar sekali risikonya, karena itu pemerintah pusat mencoba cara kita. Karena menurut pemerintah, masalah itu akan hilang dengan sendirinya jika cara kita (Aceh) dilaksanakan di seluruh Indonesia,” katanya.
Karena inti dari pemanfaatan geothermal ‘gaya Aceh’ ini adalah tersedianya pihak yang menyiapkan dana khusus untuk melakukan eksplorasi satu sumur.

0 komentar:
Posting Komentar