Pages

Sabtu, 10 Desember 2011

Panel Surya Makin Murah: Baik Untuk Konsumen, Buruk Untuk Produsen

Pada Kamis (11/8/11) lalu, Lux Research merilis analisa industri tenaga surya terbaru yang memproyeksikan kenaikkan penggunaan panel surya 15,5 persen per tahun, namun akan mengalami stagnan pada 2016. Laporan yang dirilis oleh Navigant Consulting juga memperkirakan hal yang sama. Mereka menemukan bahwa harga modul surya atau panel surya elektrik turun hingga 20 persen untuk tahun ini saja.

Menurut kedua laporan tersebut, turunnya harga panel surya karena adanya persaingan harga di antara para produsen panel photovoltaic setelah adanya penurunan tarif listrik per watt-nya.
Bagi produsen panel, hal ini berarti berkurangnya keuntungan dan adanya kekhawatiran apakah permintaan akan cukup besar untuk menyerap output kapasitas produksi yang meningkat.

Namun bagi konsumen, penurunan harga ini akan menghemat pemasangan panel surya baik yang membeli ataupun menyewanya. Untuk membeli susunan panel surya yang bisa dipasang di atap, pemilik rumah harus merogoh kocek kurang lebih $ 30 ribu. Setengahnya merupakan harga anel surya dan sisanya merupakan biaya pemasangan dan perangkat keras lainnya.

Jadi meskipun ada penurunan harga panel surya, namun mahalnya biasa instalasi tidak bisa dikatakan ada penurunan harga signifikan bagi konsumen. Ini lah yang dikhawatirkan para produsen. Oleh sebab itu, makin banyak rumah tangga yang lebih memilih menyewa panel surya, dimana minimum waktu penyewaan adalah 20 tahun. Tarif listriknya pun lebih murah.

Terlepas dari bagaimana energi surya digunakan konsumen, perbaikan teknis dan tingkat produksi harus lebih tinggi sehingga akan memicu penurunan tarif listrik tenaga surya per watt-nya. Jika harga perangkat keras panel surya terus menurun maka tarif listrik tenaga surya bisa di bawah tarif listrik biasa. Ini lah yang disebut “grid parity”. Jika “grid parity” bisa tercapai maka akan ada adopsi teknologi berskala besar. Namun menurut Lux Research, keadaan ini tidak akan datang hingga beberapa tahun mendatang di AS karena pemerintah negara bagian masih bergantung pada intensif energi.

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009 Adoe Aduen | by TNB