Untuk pertama kalinya ilmuan berhasil menggunakan terapi gen untuk menghancurkan kanker/tumor pada pasien penderita penyakit lanjutan. Hasil ini merupakan hasil penelitian yang dimulai sejak 20 tahun lalu.
Para peneliti di Universitas Pennsylvania merekayasa sel T pasien yang berfungsi melawan patogen ke molekul tertentu yang ada di permukaan sel leukimia.
Sel T yang sudah direkayasa tersebut kemudian dikembangkan di luar tubuh lalu diinfuskan kembali ke pasien penderita stadium akhir CLL (chronic lymphocytic leukima). Nantinya sel tersebut akan mempengaruhi darah dan sumsum tulang dan merupakan bentuk paling umum dari leukimia.
Dua pasien pada Fase I telah masuk dalam tahap penyembuhan sejak setahun lalu. Sedangkan pasien ketiga percobaan ini memiliki anti-tumor yang lebih kuat sedangkan kankernya masih dalam pemeriksaan. Rencananya tim peneliti akan merawat empat pasien CLL lainnya sebelum akhirnya ke percobaan Fase II.
Tujuan akhirnya adalah metode bisa digunakan tidak hanya untuk penderita leukimia tetapi juga untuk penderita kanker lain seperti kanker paru, kanker rahim, myeloma dan melanoma. Penlitian ini pun sudah diterbitkan dalam New England Journal of Medicine and Science Translational Medicine pada Rabu (10/8/11) lalu.
Menurut Direktur studi Translasi dan Korelasi di Perekman School of Medicine Universitas Pennsylvania, Dr. Michael Kalos, sebelum ada metode baru ini sudah pernah ada metode lain yang mirip, yang ia sebut ‘adoptive T-cell transfer’. Namun metode ini gagal karena respon sel lemah dan terlalu beracun bagi jaringan tubuh yang normal.
Teknik ini berbeda dari terapi kanker lain yang dirancang untuk memanfaatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan tumor - seperti vaksin kanker terapeutik. Kalos berkata mereka tidak lagi menstimulasi respon kekebalan tubuh tetapi memberikan langsung respon kekebalan tubuh.
Perawatan dengan metode ini nampaknya berhasil, namun para ilmuan sepakat perlu lebih banyak studi lanjutan. Selama masa perawatan pasien yang dirawat di Fase I, mendapatkan obat peningkat kekebalan tubuh semenjak molekul yang direkayasa—disebut CD-19—ditanam ke dalam tubuh mereka.
Untuk melakukan terapi gen ini, para peneliti mengunakan virus yang hanya bisa sekali menginfeksi sel. Ini digunakan untuk memberikan reseptor antigen yang ada di CD-19 agar berpasangan dengan reseptor dua komponen lain di Sel T.
Dua minggu setelah terapi gen, pasien akan mengalami ‘tumor lysis syndrome’ atau gelaja seperti menggigil, mual dan demam. Gejala ini diakibatkan oleh pecahnya sel kanker yang mati. Sel T yang telah direkayasa akan terdeteksi di darah si pasien beberapa bulan kemudian dan mulai ‘bekerja’ untuk melindungi tubuh dari kemungkinan kambuhnya kanker.
sumber : www.teknopreneur.com

0 komentar:
Posting Komentar